Ini kisah nyata, yang aku amati sampai saat ini.
Ada satu simpang di jalan yang tidak pernah benar-benar kutinggalkan. Bukan karena jalannya istimewa, bukan karena pemandangannya bagus. Jalan itu biasa saja: aspal yang tak mulus, gang sempit di satu sisi, dan arus kendaraan yang selalu padat setiap kali jam pulang sekolah tiba.
Aku pertama kali mengenalnya waktu masih SD. Tahun itu kakakku sudah SMP, dan aku anak SD yang belum ngerti apa-apa selalu ikut Ayah mengantar kakak berangkat sekolah setiap pagi. Paginya lancar, tidak ada yang istimewa. Yang istimewa justru saat pulang.
Karena untuk pulang, kami harus menyeberang. Dari satu sisi jalan ke sisi yang berlawanan, memotong arus kendaraan yang tidak pernah mau mengalah. Di situ, selalu ada dia.
Dia yang mengangkat tangan, memberi isyarat pada motor dan mobil supaya berhenti sebentar. Dia yang memastikan celah di antara kendaraan cukup lebar untuk kami lewati. Dia yang kadang tersenyum sambil melambaikan tangan, seolah mengantar kami pulang.
Aku dulu menyebutnya pak ogah. Atau juru parkir. Terserah, wong aku anak kecil jadi dulu ga terlalu peduli apa namanya sebutannya itu. Yang penting, setiap kali Ayah memutar setang motor ke arah simpang itu, dia ada di sana. Selalu ada.
Yang Tidak Pernah Kubayangkan Bertahan
Waktu berjalan seperti biasanya. Aku naik ke SMP, dan tanpa sengaja atau mungkin memang begitu jalannya aku masuk ke sekolah yang sama dengan kakakku dulu. Ayah masih sering mengantar. Simpang itu masih sama. Dan dia, masih ada di sana.
Lalu aku lulus, masuk SMK dan sekarang bekerja. Jalan yang kulewati setiap hari ternyata jalan yang sama. Simpang yang sama. Gang di sebelahnya masih sempit, arus kendaraannya masih padat, dan laki-laki itu… masih berdiri di situ. Membantu motor dan mobil yang keluar dari gang, mengatur yang mau menyeberang, mengulurkan tangan yang sama seperti belasan tahun lalu.
Aku tertegun sendiri waktu sadar. Orang bisa pindah kerja, pindah kota, pindah hidup. Tapi dia tidak pindah dari satu titik yang luasnya mungkin tidak lebih dari sepuluh meter.
Detail yang Baru Kusadari
Tapi ada satu hal yang baru kusadari, dan justru ini yang membuatku berhenti dan memperhatikan lebih lama.
Dia tidak pernah sendiri.
Sejak dulu, sejak aku masih anak SD yang duduk di boncengan motor Ayah, ada seorang perempuan di sana. Istrinya. Duduk atau berdiri tidak jauh dari tempat suaminya bekerja, dari pagi sampai sore, menemani hari yang sama, terik yang sama, dan bahkan sesekali aku lewat saat hujan istrinya pun masih setia menunggu, pakai jas hujan maupun payung.
Dulu aku tidak mengerti apa artinya itu. Anak kecil pikirannya sederhana: oh, ada ibu-ibu yang ikut kerja. Sekarang, setelah aku tahu bahwa berdiri di pinggir jalan itu panas, membosankan, dan tidak digaji tetap, aku baru paham.
Perempuan itu tidak sedang bekerja. Perempuan itu sedang menemani.
Tidak ada yang memintanya. Tidak ada upah untuknya. Menemani suami berdiri di simpang jalan setiap hari bukan pekerjaan, bukan prestasi, dan hampir tidak ada yang memperhatikan. Tapi dia tetap di sana. Kemarin, hari ini, dan sepertinya besok juga.
Yang Sebenarnya Kutulis

Aku mulai menulis ini dengan niat bercerita tentang pak ogah tentang orang baik yang setiap hari membantu orang yang bahkan tidak tahu namanya.
Tapi makin kupikir, makin aku sadar bahwa ceritanya bukan tentang dia.
Kebaikan orang di simpang jalan itu memang layak diceritakan. Tapi kesetiaan yang berdiri sepuluh langkah di belakangnya jauh lebih sulit dijelaskan, apalagi diukur. Karena yang pertama terlihat oleh semua orang lewat. Yang kedua, hanya terlihat oleh orang yang benar-benar memperhatikan.
Kita sering mengagumi orang yang berjasa di depan layar, yang namanya disebut, yang tepuk tangannya terdengar. Padahal di hampir setiap orang seperti itu, selalu ada seseorang di belakangnya yang setia, yang hadir setiap hari tanpa diminta, tanpa diberitakan, tanpa dihitung.
Mungkin itu sebabnya rasanya sweet banget. Bukan karena kisahnya heroik, bukan karena dramatis. Justru karena sederhana: satu orang bekerja, satu orang menemani. Selama bertahun-tahun. Tanpa banyak bicara.
Kalau ada pelajaran yang bisa kuambil dari simpang jalan itu, mungkin ini: kesetiaan tidak selalu terlihat megah. Kadang bentuknya cuma sebuah kursi plastik di pinggir jalan, dan seseorang yang memilih untuk tetap duduk di sana.
Segitu dulu cerita dari simpang jalan itu. Sampai jumpa di tulisan berikutnya, ya.