Ada film yang cuma ditonton sekali terus selesai. Tapi ada juga film yang balik lagi kita cari di waktu-waktu tertentu, kayak ketemu teman lama yang tahu kita lagi kenapa.
Buat aku, film 5cm salah satunya.
Ini sudah ketiga kalinya aku nonton. Dan belakangan aku mulai sadar, kalau aku balik lagi ke film ini, biasanya bukan karena aku lagi pengen nonton. Justru seringnya itu tandanya aku lagi sedikit hilang kendali, lagi kehilangan motivasi, dan lagi gak tahu harus ke mana.
Filmnya sama, adegannya sama, kalimatnya pun sama. Yang berubah ternyata bukan filmnya, tapi aku yang lagi nonton.
Nonton pertama, kedua, dan ketiga
Nonton pertama, seru. Persahabatannya hangat, dan setelah selesai nonton kok ada yang ganjel. Kaya pengen ngulang lagi gitu.
Nonton kedua, mulai kerasa nyentil. Aku sadar yang bikin berat itu bukan puncaknya, tapi jalannya. Perjalanan panjang, ego masing-masing, dan lelah yang harus diterima dulu sebelum sampai.
Sampai nonton ketiga, ini yang paling diam-diam nendang. Aku nonton sambil mikir, aku sendiri sudah jalan sejauh apa? Bukan sejauh apa kakiku naik gunung, tapi sejauh apa langkah aku buat hal-hal yang selama ini cuma aku simpan di kepala.
Kalau aku balik lagi, itu tandanya
Ada satu hal yang jarang aku akui, bahkan ke diri sendiri.
Setiap kali aku balik lagi ke film ini, ternyata bukan karena ceritanya yang belum selesai di kepala aku. Biasanya justru karena aku yang lagi berhenti di tengah jalan. Lagi gak tahu mau ke mana. Lagi kehilangan arah, kehilangan semangat, dan yang paling mengganggu, lagi gak yakin apa mimpi aku yang sebenarnya.
Hari-hari biasa biasanya gak kayak gitu. Aku jalan aja, kerja, ngurus hal ini itu. Tapi ada masanya semua terasa datar, dan pertanyaan kayak “sebenarnya aku mau ke mana?” jadi lebih keras dari biasanya.
Dan anehnya, di saat kayak gitu, film 5cm selalu jadi tempat aku balik. Bukan buat nyari jawaban, karena film ini gak pernah nyuruh aku ngapain-ngapain. Tapi buat ngingetin, kalau dulu aku pernah punya sesuatu yang pengen banget aku capai.
Jadi kalau kamu lihat aku nonton film ini lagi, mungkin itu artinya aku lagi nyari arah. Sejauh ini, arahnya selalu ketemu. Walau cuma berupa satu dua kalimat.
Kalimatnya selalu bikin diam agak lama
Yang paling kena buat aku ada di bagian akhir, waktu kalimat soal impian itu dibawa. Kurang lebih begini bunyinya:
“Jangan menempel, biarkan dia menggantung, mengambang 5cm di depan kening kamu. Jadi dia gak akan pernah lepas dari mata kamu. Kamu bawa impian kamu itu setiap hari, kamu lihat setiap hari, dan percaya bahwa kamu bisa. Bahwa kamu akan berdiri lagi setiap kamu jatuh, apapun hambatannya.”
Aku pernah salah kalau ngutip film ini. Ada satu kalimat yang aku pikir dari 5cm, ternyata bukan. Makanya aku cek lagi, dan yang benar memang soal impian yang digantung 5cm di depan kening itu. Entah kenapa, versi itu justru lebih masuk buat aku. Karena di situ impian bukan cuma dipendam, tapi ditaruh di tempat yang setiap hari bisa kita lihat sendiri.
Dan ada juga satu kalimat yang sederhana, yang rasanya kayak disuruh keluar dari zona nyaman:
“Kita kejar mimpi-mimpi kita yang belum selesai, kita cari mimpi-mimpi kita yang lain.”
Kedengarannya klise, ya. Tapi kayaknya klise baru kerasa klise kalau cuma kita baca, bukan kita jalanin.
Mimpi yang akhirnya aku tulis
Aku ini orang yang kalau punya keinginan, lebih sering disimpan di kepala daripada ditulis. Padahal kalau cuma disimpan, impian itu jadi susah diukur dan gampang dilupakan. Dan mungkin ini juga jawaban buat pertanyaan yang tadi, soal apa sebenarnya mimpi aku.
Jadi biar gak hilang, aku tulis di sini.
Aku pengen mendaki. Mulai dari yang masih masuk akal dulu, terus naik pelan-pelan. Bukan buat pamer sampai puncak, tapi buat ngerasain prosesnya.
Aku juga pengen solo trip. Jalan sendirian, belajar tenang sama diri sendiri, belajar ambil keputusan sendiri tanpa nunggu diiyain orang lain, terus pulang dengan lebih kenal diri sendiri.
Dan yang paling besar, aku pengen keliling Indonesia. Bukan cuma kota yang ramai itu-itu aja, tapi tempat-tempat kecil yang jarang masuk itinerary orang.
Katanya sih, mimpi boleh setinggi apa pun dulu. Gak apa-apa mimpi aja dulu, siapa tahu suatu saat tercapai. Asal dibarengin sama usaha.
Tapi jangan cuma mimpi
Bagian ini yang paling aku jaga dari diri aku sendiri. Aku gak mau cuma keluar dari hangatnya habis nonton, terus hidup lagi kayak biasa. Semangat yang gak diikuti langkah itu cuma jadi bara sebentar, terangnya semalam, besoknya dingin.
Jadi aku mulai dari yang kecil-kecil aja. Nabung sedikit-sedikit buat jalan-jalan, jalan kaki lebih sering biar badan gak kaget nanti. Nyari-nyari info trek atau tempat yang pengen dikunjungi, bukan cuma di-save terus lupa. Beli gear satu-satu, gak harus langsung lengkap.
Gak harus cepat. Yang penting ada aja yang dikerjain.
Aku gak tahu kapan semua ini bakal kejadian. Bisa cepat, bisa lama, bisa juga berubah di tengah jalan. Tapi setidaknya kemarin malem impiannya gak lagi cuma di kepala. Sekarang dia punya nama, punya tempat, dan punya jalan yang mau aku tempuh.
Filmnya cuma dua jam. Perjalanannya, ya seumur hidup. Dan aku baru mulai, bahkan baru merencanakan nya hehe.
Oke segitu dulu ceritaku hari ini, see you next blog guyss……