Aku Gak Menyangka Client-nya Sehangat Ini

Gak tau kenapa, visit ke client kali ini aku gak deg-degan sama sekali.

Yaps, kalian gak salah baca. Sebelumnya aku sudah pernah visit ke client juga, dan waktu itu rasanya deg-degan banget. Padahal bukan aku yang presentasi, tapi deg-degannya udah sampai keringet dingin. Kali ini beda lebih tenang, lebih siap, dan mungkin juga karena aku sudah tahu gambaran kerjanya.

Ngomong-ngomong, ini adalah kunjungan ketigaku, dan bisa dibilang ini juga project pertama yang aku ikut kontribusinya, yaitu layanan terbaru Excellent: AI Readiness.

Persiapan dari Jauh-Jauh Hari

Seminggu sebelumnya, mas Labib sudah mengabari kalau kita akan visit ke client untuk membahas dan memperkenalkan AI Readiness lebih lanjut. Aku, mas Labib, pak Arif, dan Kang Asep sudah prepare dari jauh-jauh hari dan sudah yakin dengan materi yang mau disampaikan.

Eh, ternyata H-4 jam sebelum berangkat, mas Labib dapat info kalau client minta materinya langsung to the point fokus ke penjelasan dan demo. Saat itu juga kita bertiga langsung diskusi dan sat-set mengubah slide presentasinya. Alhamdulillah kejar dan sempat, walau ada beberapa bagian yang harus dirombak.

Ada pembagian tugas yang berubah juga:

Pak Arif menjelaskan seluruh isi slide presentasi
Kang Asep dan aku bantu jawab pertanyaan client, dan jaga-jaga jika client minta demo
Mas Labib standby dengan slide presentasinya

Berangkat: Naik Transum dan LRT

Jam setengah 12 kita langsung berangkat. Rutenya naik Transum aku, pak Arif, dan mas Labib ke LRT Bekasi Barat, sedangkan Kang Asep ke LRT Jatimulya. Semua akan bertemu di ST Dukuh Atas.

Loh, kenapa Kang Asep gak bareng aja? Ya, awalnya semua mau bareng. Tapi disarankan oleh om Akoy untuk langsung pulang saja setelah visit selesai, jadinya kita berangkat dengan kendaraan masing-masing. Kebetulan juga, rumah aku, pak Arif, dan mas Labib memang lebih dekat ke LRT Bekasi Barat.

Oke, lanjut. Kita akhirnya ketemu di ST Dukuh Atas. Sampai sana ternyata sudah jam 1 lebih. Kita memutuskan langsung pesan gocar atau kalau ada taksi yang lewat, ya sudah naik taksi. Keluar dari ST Dukuh Atas, alhamdulillahnya pas ada taksi yang lewat, dan akhirnya kita stop dan naik.

Di Dalam Taksi

Di dalam mobil, pak supir sempat bertanya mau lewat jalur yang mana. Tentunya kita pilih jalur yang cepat walaupun perkiraan sampai jam 14:02, padahal kita janjian sama client jam 14:00. Sebenernya sempat takut juga kalau telat, apalagi ini client baru.

Sampai di Tempat Client: Disambut Lebih Hangat dari Dugaan

Singkat cerita, sampai juga di tempat client. Yang bener-bener gak kami duga dari berempat adalah kami disambut hangat oleh resepsionis, dan lebih surprise lagi, ada layar yang menampilkan:

“Welcome, Pak Arif, Pak Hidayat (Kang Asep), Pak Labib, dan Bu Zahwa”

Masyaallah, awalan yang mantap betul buat client satu ini.

Kami ke resepsionis dan langsung diarahkan ke ruang meeting. Sampai di ruang meeting, alhamdulillah masih disambut baik oleh client, dan keterlambatan beberapa menit pun dimaklumi. (Dalam hati: masyaallah, bener-bener disambut hangat sekali.) Berbincang sebentar dengan beberapa manajer client, lalu kami langsung mulai presentasinya.

Flashback: Ketakutan yang Ternyata Gak Sebesar Itu

Sebelum visit, pastinya kami riset dulu tentang client ini. Nah, pas riset dan masuk ke website client, ternyata client sudah menggunakan AI. Saat itu bayangan kami aku, Kang Asep, dan mas Labib langsung membayangkan: client ini pasti sudah lebih paham dibandingkan kita. Deg-degan versi “malu-maluin” pun mulai muncul.

Tapi ternyata, setelah presentasi selesai dan sesi diskusi dimulai, ketakutan yang kami bayangkan gak sebesar itu.

Ternyata client baru berlangganan GPT dan baru menggunakannya untuk membantu pekerjaan sehari-hari belum sampai tahap integrasi. Jadi masih banyak ruang untuk berdiskusi dan saling bertukar pengalaman.

Yang bikin kami makin percaya diri: pas sesi tanya jawab, use case dan pertanyaan yang dilontarkan client ternyata sama persis dengan case yang ada di Excellent. Mulai dari case divisi Sales, Support, sampai Development. Rasanya kayak lagi bahas materi yang sudah kami kuasai pertanyaan-pertanyaan yang muncul justru mengalir dengan lancar.

Alhamdulillah, sesi Q&A dan diskusi berjalan lancar, dan yang paling membahagiakan: client meminta untuk diskusi lebih lanjut dan lebih mendalam. Itu sinyal yang bagus banget buat kami.

Foto Bersama dan Pulang yang Berkesan

Setelah diskusi, ada sesi foto bersama sayangnya pakai HP manajer client, jadi gak ada dokumentasi yang bisa kami bawa pulang. Sampai kami pulang pun, kami masih diantar sampai pintu depan oleh manajer tersebut. Perhatian banget, kan?

Kami pulang masih dengan rute yang sama naik gocar sampai ST Dukuh Atas, lalu berpisah di ST Bekasi Barat. Tapi mas Labib gak bareng pulang, karena beliau ingin melipir ke tempat yang bisa buka laptop. (Infonya sih mau kirim penawaran ke client)

Singkat cerita, aku dan pak Arif turun di ST Bekasi Barat, dan Kang Asep lanjut ke ST Jatimulya. Keluar kereta, pak Arif dapat telepon. Alhasil, aku diminta duluan saja sama pak Arif, dan akupun berjalan duluan.

Nyasar di LRT Bekasi Barat

Keluar dan tap kartu… dan di sinilah aku nyasar sedikit. Ya, aku baru pertama kali ke LRT Bekasi Barat, biasanya aku turun di LRT Cikunir 1. Nyasarnya kenapa? Salah turun/keluar.

Waktu masuk ST Bekasi Barat, aku perhatiin sekitar dan patokan turunnya ada di stand Roti O. Pas pulang, ternyata di deket stand Roti O itu ada 2 tangga. Yang seharusnya dari tap kartu belok ke kiri, aku malah belok ke kanan.

Pas turun, aku udah curiga kok ada eskalator ya? Aku mau balik lagi, tapi gak bisa karena eskalatornya cuma jalan turun. Alhasil, dari bawah eskalator aku lari naik tangga manual dan langsung samperin penjaganya buat tanya arah.

Pas nanya, aku malu banget wajahku udah full keringetan, kayak abis olahraga bolak-balik naik tangga. Akhirnya penjaganya kasih tau, dan… ya bener aja. Dari tap kartu, ternyata emang harus belok kiri.

Pelajaran yang bisa aku ambil dari Kunjungan Ini

Visit kali ini meninggalkan kesan yang beda dari kunjungan sebelumnya. Bukan cuma karena gak deg-degan, tapi karena aku ngerasa lebih terlibat ini project pertamaku, dan aku ikut berkontribusi dari persiapan sampai presentasi.

Ada beberapa hal yang aku bawa pulang dari hari itu:

  • Harus siapin ilmu yang matang karena ketika kita sudah yakin sama materi, rasa takut jadi jauh lebih kecil.
  • Jangan keburu takut duluan, bayangan “client pasti lebih paham” ternyata gak seburuk itu. Riset itu penting, tapi jangan sampai bikin kita down sebelum bertemu.
  • disambut dengan layar “Welcome”, diantar sampai pintu, itu bikin kami merasa dihargai sebagai partner, bukan sekadar vendor.

Yang paling penting, alhamdulillah client merespons dengan baik dan meminta diskusi lanjutan. Semoga ini jadi awal kerja sama yang baik antara client dan Excellent.

Dan buat kalian yang baru pertama kali visit client semangat! Deg-degan itu wajar, tapi percayalah, persiapan yang matang akan membawa kalian melewatinya dengan lancar.

One thought on “Aku Gak Menyangka Client-nya Sehangat Ini”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *