Merekrut Rekan Kerja Tapi Goib??

Jadi gini, aku baru sadar kalau beberapa bulan ini aku sebenarnya punya karyawan.

Dia nggak pernah telat, nggak pernah minta cuti, dan nggak pernah ngajak aku ngobrol pas aku udah pengen pulang. Disuruh apa aja jalan. Cuma ada satu masalah, dia juga nggak pernah bilang kalau sebenernya dia lagi nggak ngerti.

Karyawan itu namanya AI. Angjayy wkwk.

Awalnya aku nggak kepikiran sejauh itu sih. Buatku dia cuma alat, kayak kalkulator yang kebetulan bisa ngomong. Tapi lama-lama, cara aku ngasih kerjaan ke dia berubah. Aku mulai ngasih tugas kayak aku ngasih tugas ke orang beneran. Ada perintahnya, ada hasilnya, kalau aku minta ya dia bikin laporan.dipikir – pikir kok jadinya kayak aku ini atasannya wkwk.

Hari pertama “kerja”-nya juga nggak ribet. Dia nggak perlu ruang kerja, nggak perlu dikenalin ke tim. Aku tinggal nulis satu perintah yang jelas, terus nunggu hasilnya. Sesimpel itu. Dan yang bikin aku kaget bukan karena dia pinter, tapi karena dia cepet ngejawab dan bikin tugas selesai. Kerjaan yang biasanya aku kerjain sambil mikir-mikir keras, sedangkan dia selesaiin dalam hitungan detik, esasyy peasy buangett.

Awalnya enak sih. Aku tinggal ngomong, dia ngelakuin wkwk.

Terus makin lama, makin banyak hal dari dia yang rasanya mirip orang. Dia bisa dikasih tugas. Kalau yang ini beres, lanjut ke yang itu. Kalau gagal, dia coba kasih tau cara lain. Dia juga bisa aku mintain laporan, “rangkum dong apa aja yang udah kamu kerjain hari ini”, dan dia nurut. Paling ekstrem, dia bisa aku “pecat”. Tinggal tutup tabnya, matiin prosesnya, beres. Nggak ada obrolan berat, nggak ada surat pengunduran diri. Contohnya disini aku minta dia untuk update artikel tentang AI dan dia masih ngelakuinnya sampai hari ini.

Sampai situ, dia keliatan kayak karyawan yang susah dicari. Rajin, cepet, nggak banyak drama wkwk.

Yang pertama, dia nggak ngerti “nggak enak”. Orang kan punya feeling soal hal-hal kecil, kapan harus maju, kapan harus ngalah, kapan hasil segini udah cukup walau belum sempurna. Dia nggak punya itu. Kalau aku bilang “bikin lebih bagus”, ya dia bikin versi yang menurut dia bagus. Belum tentu yang aku maksud.

Yang kedua, dia nggak punya inisiatif sendiri. Ini yang kayaknya sering disalahpahami. Dia keliatan proaktif, tapi sebenernya dia cuma nurut. Nggak aku arahin, ya dia diem. Dan kalau aku salah nanya, dia jawab salah dengan yakin. Nah ini yang agak bahaya, soalnya jawaban yang yakin tuh susah dibedain sama jawaban yang bener.

Yang ketiga, kalau dia salah, salahnya jadi salah siapa?

Ya salah aku nya yang salah kasih perintah ke dia, tapi aku bisa aja marahin dia “lain kali hati-hati ya”. Nggak ada yang bisa aku mintain pertanggungjawaban. Jadi balik lagi ke aku, mikir ulang, jangan-jangan perintahku yang kurang jelas. Jadinya yang sering harus dievaluasi malah aku, bukan dia awokawok, tapi sekarang udah aman-aman aja sih.

Dari situ aku mulai mikir lebih jujur. Kalau yang ngasih perintah aku, yang milih hasilnya aku, yang nanggung kalau salah juga aku, berarti yang kerja tetap aku dong. Dia tuh bukan karyawan yang gantiin aku. Lebih ke rekan baru yang butuh arahan terus. Bedanya cuma satu, dia nggak pernah capek, dan aku tetap capek.

Mungkin ini bagian yang jarang dibahas ya. Kita sibuk takut diganti AI, padahal kerjaan pertama yang dia ambil itu justru perkerjaan yang nguras waktu. Ngulang, ngerapihin, nyalin, ngerangkum. Sisanya, yang butuh rasa, keputusan, dan tanggung jawab, masih kita yang pegang. Ya setidaknya sekarang.

Jadi buatku, dia bukan pengganti (Azekk). Dia rekan yang nggak punya raga, bisa aku marahin sepuasnya wkwk, dan bikin aku lebih hati-hati kalau ngasih perintah. Bukan karena aku baik, tapi karena kalau perintahku ngawur, dia nggak bakal ngoreksi. Dia cuma jalan, cepet, dan salah bareng aku.

Ternyata punya karyawan tetap butuh kerja ya. Bedanya, sekarang kerjanya lebih banyak mikir daripada ngerjain.

Okey, segitu dulu… See you next blog ya guys!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *