Ketika Ibu Bertanya, “Dek, Emang Ada AI Selain yang di WA?”

Itu terjadi pas aku baru pulang kerja. Lagi pengen rebahan, mata udah setengah merem. Baru aja duduk ga lama dari itu, ibu nyusul.

“Dek, ibu mau nanya. Kamu kan kerjanya deket-deket AI. Emang ada AI selain yang di WA?”

Aku bingung bentar. “AI yang di WA?”

Oh. Meta AI. Buat ibu, itu satu-satunya AI yang dia kenal. Dan jujur, masuk akal banget. Ibu bukan orang yang nggak melek teknologi, cuma dia menghabiskan waktunya di rumah dan buka sosmed pun cuman WhatsApp grup keluarga, grup arisan, grup RT. Di situ kalau ada yang nggak ngerti apa-apa, jawabannya hampir selalu: “tanya Meta aja.”

Jadi buat ibu, AI itu ya yang ada di WA itu. Itu aja. Nggak lebih.

“Ada, Bu. Banyak malah. Ada ChatGPT, ada yang dari Google, ada juga yang bisa bikin gambar.”

“Nggak semuanya di WA?”

“Nggak, Bu. Kebanyakan punya aplikasi sendiri.”

“Oalah. Kirain cuma itu.”

“Ya, Bu. Itu aja udah lumayan.”

Ibu manggut-manggut sambil balik ke dapur. Aku ke kamar dan rebahan. Tapi obrolan tadi nggak pergi-pergi dari kepalaku.

Ibu nggak ketinggalan zaman. Dia cuma hidup di dunia yang AI-nya ya yang muncul di WA. Dan sebenernya, buat kebanyakan orang, itu memang pintu masuknya. Nggak semua orang butuh tahu bedanya ChatGPT sama Gemini, atau apa itu open source, atau kenapa model lokal lagi rame. Mereka cuma butuh satu: AI yang gampang dijangkau, di tempat yang emang tiap hari mereka buka.

“Nanti kalau ibu penasaran, tak kasih tahu ChatGPT. Bisa buat cari resep masakan dllnya”

“Beneran bisa?”

“Beneran, Bu.”

“Wah, nanti ibu coba.”

Ibu senyum, balik ke dapur. Selesai. Nggak ada yang dramatis, nggak ada nasihat bijak ala film. Cuma ibu yang penasaran, dan aku yang kebetulan bisa jawab. Dan mungkin, dari sekian banyak obrolan soal AI hari ini, yang kayak gini justru yang paling penting: yang nggak bikin orang takut, tapi bikin orang penasaran buat coba.

Okey, segitu dulu… See you next blog ya guys!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *