Coba lagi besok

Written by

in

Hari ini aku tidak dijemput oleh Syifa, justru aku yang menjemputnya. Kenapa begitu? Karena kemarin motor Syifa bannya sempat kurang angin. Hal itu terjadi karena motornya tidak dipakai selama satu hari sebelumnya, jadi ketika digunakan kembali, bannya menjadi kempes.

Pagi ini aku bersiap-siap dengan cukup santai, tidak terburu-buru. Syifa mengirim pesan pagi-pagi:

Syifa: “Wa, mau jemput jam berapa?”

Aku: “Nanti ya, jam 7 pas.”

Syifa: “Okey.”

Menjelang pukul 7, aku langsung berangkat dan mengabari Syifa bahwa aku sedang dalam perjalanan. Di perjalanan menuju rumah Syifa, sempat sedikit macet karena ada truk besar yang melewati jalan yang cukup sempit. Setelah sampai di rumah Syifa, kami langsung berangkat bersama. Kami juga tidak sarapan bersama lagi hari ini.

Kami sampai di kantor sekitar pukul 07.30. Aku langsung membuka laptop dan menyelesaikan misi harian di Duolingo.

Setelah itu, aku membaca artikel Disway yang ditulis oleh Bapak Dahlan Iskan berjudul Memihak Rubil. Dari tulisan tersebut, aku bisa menyimpulkan bahwa Pak Dahlan menonton balapan mobil Indy 500 di Amerika. Awalnya beliau mendukung Marco Andretti, lalu berpindah ke Takuma Sato karena mobilnya menggunakan mesin Honda buatan temannya. Balapan berlangsung sangat cepat dan sulit diikuti, tapi suasananya sangat meriah seperti sebuah pesta. Ia juga bertemu dengan legenda balap Mario Andretti dan melihat sang juara, Alex Palou, mencium garis finis—sebuah pengalaman yang sangat seru dan berkesan.

Kemudian, aku membantu menyiapkan dokumen administrasi: mulai dari memberi stempel dan meterai, meminta tanda tangan direksi, menyiapkan dokumen untuk dipacking, hingga mencetak amplop pengiriman.

Aku juga memeriksa email yang masuk dan memilah antara yang asli dan yang palsu. Proses ini penting karena kesalahan dalam memilah email bisa berdampak besar.

Selain itu, aku juga menuliskan beberapa arsip kwitansi petty cash dan merapikan dokumen-dokumen arsip tersebut. Aku meminta tanda tangan di beberapa kolom yang memang ditujukan untuk orang yang berbeda-beda. Agar lebih mudah, setiap bagian aku tandai dengan pembatas buku berwarna. Setiap orang memiliki warna masing-masing sehingga proses penandatanganan jadi lebih cepat dan rapi.

Setelah semua itu selesai, aku mencoba menginstal Zimbra melalui Virtual Machine (VM) menggunakan VirtualBox dengan OS Ubuntu 22. Sambil menunggu proses instalasi, aku mencari tahu perintah-perintah instalasi Zimbra di Ubuntu 22.

Setelah makan siang dan tepat saat instalasi Ubuntu selesai, aku mulai mencoba proses instalasi Zimbra. Namun sayangnya, laptopku tidak cukup kuat untuk menjalankan VirtualBox dengan lancar, sehingga instalasinya belum berhasil.

Aku sudah mencoba dari pukul 13.00 hingga pukul 16.00, namun belum berhasil juga. Jadi, aku putuskan untuk mencobanya kembali besok.

Menjelang akhir jam kerja, aku menulis blog ini dan membuat laporan kegiatan hari ini. Setelah semuanya selesai dan aku kirim, aku langsung bersiap-siap untuk pulang.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *