Juli kembali mengetuk pintu.
Mengapa kau tidak menyambutnya?
Dahulu kau selalu menunggu bulan ini datang.
Bukankah di bulan inilah hidupmu pertama kali dimulai?
Kalimat itu yang aku temukan saat pertama kali aku buka TikTok. Aku berhenti sejenak, bacanya sekali lagi, dan tanpa sadar aku ngomong pada diriku sendiri.
“Setiap tahun aku menyambut bulan Juli, dan tentunya bulan-bulan lainnya, dengan banyak doa serta harapan.”
Tapi hanya di bulan inilah aku berpasrah. Berpasrah yang dimaksud bukan dengan keadaan, tetapi dengan kegiatan rutin setiap tahun yang selalu dirayakan.
Bukan juga mengenai aku berharap dirayakan. Semakin dewasa, aku semakin sadar kalau hari lahir adalah pertanda kita semakin bertambah usia. Waktu kecil aku gak berpikir seperti itu. Aku tahunya hari lahir adalah hari kebahagiaan dan penuh dengan banyak kejutan. Kue, balon, tiup lilin, dan nyanyian happy birthday itu saja udah cukup bikin seharian terasa sempurna.
Semakin usiaku meranjak dewasa, yang hampir memasuki usia kepala dua, aku semakin sadar kalau hari lahir lah yang menentukan kita ingin berbuat apa ke depannya.
Dulu, pas kecil, tanggal ini selalu aku nanti-nanti. Seminggu sebelumnya udah sibuk ngebayangin kue, balon, dan kado. Apalagi kalau ada tiup lilin sambil dikelilingi orang-orang terdekat rasanya dunia milik kita sendirian.
Tapi makin ke sini, rasanya beda.
Bukan karena aku gak suka dirayain. Tapi karena semakin tua, semakin sadar: hari lahir itu bukan cuma soal seremonial. Ada jeda yang muncul sendiri di kepala sebelum tidur. Sejenak diam dan mikir, “Setahun udah lewat. Apa yang udah aku lakuin? Apa yang berubah?”
Dan jujur, kadang jawabannya bikin tersenyum, kadang juga bikin mikir ulang. Ada target yang tercapai, ada juga yang masih numpuk di catatan. Ada mimpi yang udah mulai dijalanin, ada juga yang masih nunggu keberanian buat memulainya.
Tapi satu hal yang sama setiap tahunnya: aku selalu berharap jadi versi yang lebih baik dari tahun lalu.
Bukan versi yang paling sempurna, tapi versi yang lebih sadar sama apa yang mau dicapai, sama siapa yang mau dijaga, dan sama nilai apa yang mau dibawa ke depan.
Mungkin itu alasan kenapa bulan ini selalu kerasa beda. Bukan karena adanya hari spesial di kalender, tapi karena jadi momen buat refleksi ngaca sejenak sebelum lanjut jalan lagi.
Di usia yang hampir kepala dua ini, aku belajar satu hal:
Hari lahir itu bukan patokan buat merasa tertinggal. Bukan juga ajang buat ngebandingin pencapaian sama orang lain. Tapi lebih ke pengingat kalau waktu terus berjalan, dan kita yang milih mau dibawa ke mana langkah selanjutnya.
Lagi-lagi aku keinget ucapan pak bos (direktur di perusahaanku). Beliau pernah bilang:
“Apa salahnya kita ucapkan selamat ulang tahun atau selamat hari lahir kepada rekan kita yang sedang merayakannya? Toh mungkin dengan ucapan itu, dia sudah merasa dihargai.”
Kalau ga salah kalimat nya seperti itu. Kalimat sederhana, tapi ngena banget. Karena kadang, kita gak perlu ngasih kado atau pesta besar. Cukup ucapan tulus dari orang di sekitar, itu udah berarti. Seiring bertambah dewasa, aku jadi paham: menghargai orang lain di hari spesialnya itu bukan soal besar kecilnya perayaan, tapi tentang kehadiran dan perhatian yang kita kasih.
Ada yang bilang semakin tua semakin berat. Mungkin iya, karena tanggung jawabnya bertambah. Tapi aku lebih suka mikirnya begini: semakin tua, semakin kita punya kesempatan buat jadi lebih bijak dalam memilih mana yang layak diperjuangkan, mana yang cukup dilepaskan.
Jadi, selamat datang kembali, Juli.
Terima kasih sudah mengingatkan bahwa satu tahun lagi sudah berlalu, dan bahwa masih ada banyak hal yang bisa diperbaiki ke depannya.
Bukan dengan resolusi besar yang muluk-muluk. Tapi dengan langkah kecil yang konsisten, doa yang gak putus, dan harapan yang tetep dijaga.
