Dari Belajar Duolingo, Ngoprek Mikrotik, Sampai Jadi Notulen di Meeting

Written by

in

Pagi ini aku ga berangkat bareng Syifa lagi hehe, soalnya di rumah ada motor nganggur jadi aku bawa aja. Aku berangkat ke markas jam 07:25 dan sampai sekitar jam 07:45. Selama di perjalanan aku santai banget dan bener-bener nikmatin.

Sampai di markas aku siap-siapin barang dulu, terus langsung belajar bahasa Inggris pakai aplikasi Duolingo sampai jam 9 pagi. Oh iya, aku mau kabarin juga kalau untuk sementara aku off dulu dari training Proxmox, soalnya bulan November ini sudah ada uji kompetensi dari sekolah dan aku ingin mencoba fokus belajar ukom dulu.

Habis itu aku dapat info dari Pak Nugi buat segera selesain input daftar list laporan dan kunjungan PM. Jadi aku langsung kerjain, dan selesai sekitar jam setengah 11 siang.

Karena kemarin aku sempet install PNETLab di PVE, hari ini aku coba bikin topologinya. Awalnya mikrotiknya ga bisa di-remote, aku cari tahu penyebabnya dan akhirnya nemu solusi dari ChatGPT: masukin iso mikrotiknya secara manual. Aku coba, dan yap, akhirnya berhasil! Buat kamu yang penasaran gimana cara install PNETLab di PVE, tunggu aja di blog aku selanjutnya ya.

Aku ngotak-ngatik itu sampai jam 12 siang, dan Alhamdulillah mikrotiknya sudah bisa jalan. Jam 1 siang aku lanjut ngerjain course Git. Hari ini baru mulai, jadi masih di tahap awal banget. Lagi asik ngerjain lab, tiba-tiba Mas Ridwan bilang aku harus ikut meeting dengan tamu. Di meeting itu aku jadi notulen, catet poin-poin pentingnya.

Meeting selesai sekitar jam setengah 4 sore. Baru kepikiran kalau aku belum baca catatan Disway yang ditulis Bapak Dahlan Iskan, judulnya “Setengah Dibuka”. Dari catatan itu aku dapet cerita tentang Kedutaan Besar Indonesia di Suriah yang tetap buka meski situasi genting saat peralihan kekuasaan. Bapak Wajid Fauzi sebagai duta besar tetap bertugas mengevakuasi sekitar 1.000 WNI, kebanyakan TKW yang datang lewat jalur ilegal, jadi susah banget diurus dokumennya. Saat Presiden Basyar Al Assad jatuh dan banyak majikan kabur, para TKW ditinggalkan, lalu KBRI jemput mereka. Meski kedutaan lain diserang massa, kedutaan Indonesia tetap aman karena nama Indonesia dihormati di Suriah.

Setelah itu aku lanjut nulis blog ini sekaligus bikin laporan kegiatan di mail Zimbra, terus langsung aku kirim.

Oke segitu dulu cerita hari ini. Sampai ketemu di blog-blog aku selanjutnya yaa!

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *