Nyaman Itu Nggak Selalu Baru

Hallow Hallowww

Sudah berapa hari ya aku ga post di kategori ini hehe.

Okei, jadi seminggu yang lalu aku beli headset kabel karena headset-ku yang sebelumnya cuma berfungsi di sebelah kanan, sementara yang kiri udah nggak nyala.

Yaudah deh, aku beli headset baru dengan merek yang sama. Kupikir bakal cocok di aku—maksudnya dari segi ukuran, pas di telinga. Tapi pas headset-nya sampai dan aku coba, ternyata nggak nyaman sama sekali. Rasanya sakit banget di telinga saat dipakai.

“Kenapa ya sakit?”
“Kenapa nggak pas?”
“Padahal mereknya sama…”
Aku terus bertanya-tanya sendiri.

Oh iya, btw, headset-ku yang lama itu udah kupakai hampir dua tahun. Baru aja rusak—sebelah aja yang nyala—tapi tetap nyaman banget saat kupakai, dan kualitas suaranya juga bagus, jelas banget.

Sementara yang baru ini, belum satu menit dipakai, udah bikin telinga sakit. Suaranya juga nggak sebagus yang lama. Aku bilang ke Syifa, dan akhirnya dia rekomendasiin headset yang dia pakai sekarang. Aku beli juga, dan barangnya udah sampai… tapi tetap aja, rasanya nggak pas dan masih sakit juga di telinga.

Ya mau nggak mau, aku balik lagi pakai headset lama. Walaupun udah rusak, tapi setidaknya itu yang paling nyaman buatku.

Akhirnya aku sadar, bukan soal harga atau mereknya, tapi soal kenyamanan yang udah terbentuk dari kebiasaan. Sama kayak perasaan—kadang kita terlalu terbiasa sama satu hal, satu orang, satu suasana, sampai-sampai susah banget buat move on walaupun kita tahu itu udah “rusak”.

Kita coba cari pengganti, berharap bisa dapet yang lebih baik, yang lebih cocok, tapi malah makin nyakitin, makin kerasa kalau yang dulu itu ternyata lebih bisa diterima. Padahal, yang lama itu udah gak utuh, tapi anehnya… masih terasa lebih lengkap dibanding yang baru.

Mungkin bukan kita yang terlalu bergantung, tapi emang ada hal-hal yang gak bisa diganti cuma karena udah rusak. Kadang, yang rusak itu justru yang paling ngerti cara “berada” buat kita.

Jadi, kalau suatu saat nanti kamu merasa kehilangan, coba ingat… mungkin bukan soal mencari yang baru, tapi soal menghargai yang lama—meski udah retak, tapi masih tahu cara buat kamu merasa utuh.


Posted

in

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *